Menakar Waktu Batita Menonton Televisi Juli 18, 2006
Posted by piogama in Uncategorized.2 comments
Mempunyai bayi berusia di bawah lima tahun (balita), apalagi di bawah tiga tahun (batita), adalah masa paling membahagiakan. Segala hal diusahakan untuk si kecil, terutama untuk “santapan” otak anak.Rupa-rupa permainan diberikan orangtua untuk merangsang saraf sensorik dan motorik sang buah hati. Bahagia rasanya melihat sang buah hati tumbuh normal.
Banyak tawaran permainan bersifat edukatif untuk tumbuh kembang bayi dan anak. Permainan yang bersifat audio visual lewat video compact disc (VCD), program komputer, atau berbagai tayangan televisi juga makin bervariasi. Kadang hal itu justru membuat orangtua bingung memilih yang terbaik.
Televisi saat ini makin tidak terhindarkan untuk ditonton batita maupun balita. Di tengah gempuran program sinetron, kuis, variety show, infotainment, reality show, juga iklan di televisi, orangtua harus pandai-pandai memilihkan tontonan yang sesuai untuk anak.
“Televisi itu kontroversial jika dikaitkan dengan anak. Televisi dipercaya memberi pengaruh buruk bagi anak kecil. Banyak orang mengeluh soal televisi. Tetapi, televisi walaupun jelek juga tetap ditonton. Ini kenyataan yang tidak terhindarkan,” papar guru besar psikologi Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono, di sela-sela konferensi pers tentang Vision 3 Baby, saluran baru pada televisi berlangganan Indovision.
Pengaruh buruk televisi itu sebenarnya sudah disadari para orangtua. Soal ini pun sudah kerap dibahas dalam berbagai seminar atau diskusi. Namun, apa boleh buat, televisi ternyata tetap menjadi salah satu alternatif tontonan di rumah.
“Anak-anak kecil jadi hafal lagu TTM (Teman Tapi Mesra dari grup Ratu),” kata Sarlito.
Pendampingan
Pendampingan adalah kata yang harus diperhatikan orangtua. Anak menonton televisi boleh, tetapi harus didampingi orangtua. Persoalan menjadi pelik terutama pada orangtua yang keduanya pekerja. Anak akan didampingi pengasuh bayi. Beruntung bagi keluarga yang mempunyai pengasuh bayi yang pintar dan dapat dipercaya. Meski demikian, orangtua tetap harus memberi pengarahan kepada pengasuh bayi sebelum berangkat bekerja.
“Meskipun begitu, kualitas pendampingan memang menjadi jauh berbeda jika dilakukan baby sitter. Maka itu, orangtua yang bekerja sebaiknya tetap menyediakan waktu semaksimal mungkin untuk pendampingan anak menonton televisi,” papar Sarlito.
Dia mencontohkan film seri kartun Tom and Jerry di televisi yang jika ditonton batita bisa memberi pengaruh buruk.
“Kalau Tom dan Jerry sedang pukul-pukulan dan si anak melihat, dia akan langsung menirukan. Ini berbahaya, terutama bagi batita yang belum bisa diberi tahu,” jelasnya.
Dokter Rizal Sini dari Rumah Sakit Bunda Jakarta menambahkan, otak bayi yang lahir ibarat chip yang masih kosong dan harus diisi.
“Saat itulah orangtua yang akan menentukan akan diisi apa chip ini,” tuturnya.
Channel Vision 3 Baby di Indovision menawarkan tontonan untuk batita tanpa iklan yang bisa diakses dengan cara berlangganan. Ini menjadi salah satu alternatif selain berbagai film kartun yang ditayangkan hampir semua stasiun televisi.
Program Vision 3 Baby antara lain berupa baby art, animasi dengan waktu lima menit per episode. Program menceritakan penciptaan suatu gambar dari awal hingga akhir. Lalu ada bouncy balls, wooly, jammers, dan who’s it what’s it. Ini program dwibahasa sehingga orangtua bisa memilih bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.
Waktu dibatasi
Sarlito menekankan pentingnya dosis menonton televisi bagi batita, selain isi dan tentu saja pendampingan orangtua.
“Sepuluh menit sudah cukup untuk anak menonton televisi. Televisi akan memberi pengaruh positif jika dibatasi waktunya, ada waktu maksimumnya,” tegas Sarlito.
Kepala Divisi Informasi Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia Bobi Guntarto justru menyarankan agar bayi usia nol sampai tiga tahun tidak perlu diberi suguhan televisi. Untuk anak SD pun televisi hanya boleh ditonton selama dua jam sehari.
“Televisi sering dianggap sebagai hiburan, padahal merusak kalau enggak diatur. Alihkan ke bentuk kegiatan lain. Makanya, kami akan mencanangkan hari tanpa TV saat Hari Anak tanggal 23 Juli nanti,” kata Guntarto.
Dokter spesialis anak Mulya Karyanti berpendapat sama. Dosis menonton harus diberikan dengan tepat demi kesehatan bayi. Sebenarnya bayi usia nol sampai enam bulan belum bisa membedakan warna dan televisi tidak begitu berpengaruh.
“Anak di bawah satu tahun belum fasenya untuk menonton televisi,” ujarnya.
Pada anak usia satu hingga tiga tahunlah waktu menonton harus dibatasi.
“Kalau lebih dari 10 menit, ya pokoknya kurang dari setengah jam. Ini harus diusahakan,” kata Mulya.
Jika terlalu lama menonton televisi (ini bisa juga VCD, apalagi komputer), lanjut Mulya, mata anak akan cepat lelah dan tidak sehat. Mata yang lelah akan berpengaruh pula pada saraf otak.
“Otot mata akan terus berkontraksi dan letih. Si anak bisa tidak menyadari hal itu karena asyik menonton, tetapi akibatnya mata anak bisa menjadi minus. Jika ini terjadi pada anak yang keluarganya mempunyai kelainan mata silindris, mata anak pun akan minus. Apalagi jika jarak menonton televisi yang 10 kali ukuran layar televisi tidak diperhatikan,” papar Mulya.
Menurut Sarlito, bahkan program batita seperti di Vision 3 Baby yang sudah dirancang dengan konsep matang pun bisa menjadi berpengaruh jelek bagi si anak jika dosis tidak ditakar. Dosis ini akan meningkat seiring dengan pertambahan usia anak. Sampai menjadi dewasa, orang baru akan dapat mengukur sendiri waktu menonton televisi.
Maka, sebelum anak telanjur “maniak” televisi, mulailah batasi dari sekarang….
Televisi Sehat untuk Anak
Kampanye televisi sehat sedang dicoba untuk digalakkan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI). Intinya, anak-anak harus dikawal ketat oleh orangtua ketika menonton televisi. Tidak hanya televisi sehat, YKAI bahkan mencanangkan Hari Tanpa Televisi pada Hari Anak tanggal 23 Juli 2006 ini. Dalam sehari itu, oranguta diharapkan dapat mengajak anak-anaknya sama sekali tidak menonton televisi.
Kepala Divisi Informasi YKAI Bobi Guntarto mengatakan, saat ini televisi susah dihindari anak-anak, apalagi jika mereka hanya ditunggui pengasuh saat orangtua bekerja. Karena itu, yang penting bukan melarang anak menonton televisi, tetapi mengatur dengan membatasi waktu menonton.
Beberapa saran mungkin berguna:
1. Diusahakan tidak meletakkan televisi di kamar, terutama kamar anak, karena akan membuat anak terbiasa dengan kehadiran televisi, bahkan hingga untuk menemani tidur. Ini harus dihindari.
2. Jika mau membatasi waktu menonton, usahakan seketat mungkin. Untuk anak di bawah tiga tahun, maksimal waktu menonton adalah setengah jam sehari dengan sepuluh menit per sesinya.
3. Orangtua sebaiknya menemani anak menonton dan memilihkan saluran yang tepat meski itu sulit ditemui. Pada saat iklan, orangtua juga wajib menjelaskan.
4. Televisi bukan alat pengganti pengasuh bayi. Jadi, jika anak sedang rewel dan menangis, sebaiknya jangan dihibur dengan televisi. Cari kegiatan lain yang lebih bermanfaat.
5. Anak agar tidak diberi tontonan yang agresif, yang memicu anak mencontoh. Untuk anak di bawah lima tahun, tontonan agresif seperti kartun Tom and Jerry, misalnya, tidak dianjurkan. Selain belum menangkap humornya dengan tepat, anak akan dengan mudah meniru adegan pukul-pukulan di dalamnya. ***
Penulis: SUSI IVVATY
Juni 29, 2006
Posted by piogama in Uncategorized.add a comment
|
|
“Anyang-anyangan”, Sinyal KuningBatuGinjal
Jakarta, Rabu
Siapa bilang, kebiasaan anyang-anyangan hanya sekadar gangguan buang air kecil semata? Anyang-anyangan ternyata juga bisa dijadikan sinyal kuning atau pertanda adanya gaugguan pada fungsi ginjal.
Sudah hampir tiga tahun ini Rudi mengeluhkan gangguan buang air kecil. Pria berumur 30 tahun ini merasa sangat menderita karena hampir setiap 15 menit sekali selalu berkemih. Rasanya panas dan di bawah pusar seperti anyang-anyangan. Lebih menyedihkan lagi keluarnya tersendat tak jarang juga harus mengejan. Beragam dugaan pun muncul dalam benaknya, dari mulai gangguan ringan yang tidak terlalu berpengaruh pada kesehatannya, hingga kekhawatiran munculnya infeksi pada saluran kencing atau masalah serius lainnya.
Lain lagi keluhan seorang ibu yang hampir dua bulan merasakan tidak enak di bawah perutnya, meski tidak datang bulan. Awalnya, ia memang suka anyang-anyangan. Kondisi itu tidak dianggapnya serius, sambil berharap akan sembuh dengan sendirinya. Namun, hingga sekarang gangguan itu tetap ada, bahkan memunculkan kekhawatiran akan adanya kemungkinan tumor dalam kandungan.
Dr. Siti Setiati, Sp.PD. KGER. dari FKUI mengungkapkan keluhan atau gangguan buang air kecil, bisa jadi karena adanva infeksi saluran kemih bagian bawah. Kebanyakan terjadi pada pria maupun wanita di atas usia 30 tahun atau setelah melahirkan. Dalam beberapa kasus, hal itu memang terjadi akibat anyang-anyangan semata.
Air Seni Kemerahan
Persoalannya, kebanyakan orang menganggap anyang-anyangan merupakan gangguan biasa. Padahal bisa jadi anyang-anyangan merupakan pertanda atau sinyal kuning adanya gangguan batu ginjal. Apalagi jika kejadiannya berulang-ulang dan dalam jangka waktu lama atau lebih dari seminggu.
Maklum secara umum seperti dijelaskan Dr. Setiati, gejala umum penyakit batu ginjal adalah munculnya rasa pegal pada pinggang belakang bagian atas atau tepatnya di bawah iga terakhir. Pada taraf tertentu sakit yang ditimbulkan berupa nyeri menusuk-nusuk, menjalar ke arah samping mengikuti alur saluran kemih.
Kadang gejala tersebut disertai anyang-anyangan, buang air kecil tidak lancar. Hasrat ada, tetapi berkali-kali ke belakang, yang dikeluarkan hanya sedikit. Air seni sering berwarna kemerahan.
“Ini pertanda dinding saluran kemih tergores atau terluka oleh serpihan batu. Kadang terasa nyeri saat buang air. Pada saat bersamaan, dalam air seni terdapat serpihan pasir atau batu kecil.” papar Dr. Setiati.
Anyang-anyangan biasanya dimulai dengan rasa tidak enak di perut bawah, kencing lebih sering tetapi sedikit-sedikit. Tak jarang saat kencing sedemikian nyeri, sehingga pasien takut untuk berkemih, dan air seni berwarna merah seperti air daging. Mungkin ada demam, mual, dan tidak enak badan, tak ubahnya orang sedang kurang enak badan.
Perlu Rontgen Perut
Dilihat dari kemungkinannya gangguan saluran kemih bagian bawah atau anyang-anyangan memang lebih sering menyerang wanita dibanding pria. Umumnya memang muncul beberapa hari sehabis melakukan hubungan seks yang tidak bersih. Meski begitu, pada pria juga tidak menutup kemungkinan atas risiko yang sama.
Munculnya anyang-anyangan tidak semata karena faktor kebersihan, melainkan kemungkinan ada kristal batu kemih yang sudah lama mengendap tanpa disadari. Batu kemih yang mungkin bersarang di kandung kemih atau di saluran bagian dalam ginjal bisa berbentuk kristal mengalir bersama aliran urin.
Menurut. Dr. Setiati, “Saat kristal batu terbawa urin melewati saluran kemih bagian bawah yang penampangnya kecil itu, timbul rasa nyeri, panas, dan seperti disilet. Keluhan itulah yang oleh banyak orang disebut anyang-anyangan.”
Adanya batu kemih atau batu ginjal yang mengendap lama, bisa saja tanpa keluhan. Selama batunya masih kecil dan belum menyumbat saluran kemih, biasanya belum timbul keluhan.
Adanya batu biasanya ditemukan secara kebetulan (sewaktu check up). Atau keluhan batu kemih hanya muncul kalau sedang kurang minum (dehidrasi) dan selama berpuasa.
Guna memastikan benar ada batu kemih perlu dilakukan foto rontgen perut. Kalau dengan foto polos perut batunya tidak tampak, perlu dilakukan foto khusus barium atau langsung USG. Jika benar ada batu kemih, dengan membuang batunya, keluhan anyang-anyangan biasanya akan langsung sirna.
Meski begitu, tak perlu terlalu khawatir karena semua batu kemih bisa disembuhkan jika masih kecil dan jenisnya tergolong bukan batu keras. Untuk kondisi ini, dapat diatasi dengan minum obat-obat penghancur batu.
Jika dengan minum obat batu ogah keluar, pilihannya harus dioperasi atau ditembak dengan gelombang kejut (USWL), tanpa perlu pembedahan. Namun, pilihan pengobatan secanggih apa pun, tentu tidak diinginkan oleh siapa pun.
Karena itu, melakukan pencegahan sejak dini selain menjadi yang terbaik juga pilihan termurah. Yaitu dengan mengatur pola makan, rajin minum air putih, dan jika perlu minum cairan peluruh batu ginjal.
Jadi, jangan pernah meremehkan anyang-anyangan, jika kejadiannva berulang-ulang dan dalam jangka waktu yang lama. Tujuannya agar Anda terbebas dari derita batu ginjal. * (Senior)
dari kompas cyber news